Laut lepas adalah taman bermainnya
Ombak yang bergulung sempurna membuatnya hidup
Matanya berbinar, hatinya berdebar
Ia terlahir untuk menunggang ombak

Kali pertama berjumpa dengannya ia bercerita tentang papan dan ombak
Tentang hidup yang dijalaninya di atas laut, bersama laut
Sungguh tidak ada cinta yang lebih sempurna
Ia membuatku ingin tahu rasanya menjadi dia

Lebih dari separuh abad usia, semangatnya tidak lebih dari satu per empat
Biar laut jadi saksi, semangat itu membuatnya muda meski rambut sudah tiada
Dan tidak pernah kutemukan jiwa yang lebih menarik, lebih bebas, lebih luas
Penunggang ombak tidak pernah kehabisan nafas, meski ia membaginya dengan angin dan air

Hampir 6 tahun sudah aku mengenalnya, hanya 2 kali kami berjumpa
Pertemuan yang selalu istimewa, karena rentetan cerita dan tawa
Ia sahabat yang buta bahwa semangatnya menginspirasiku dengan hebat
Jika bisa secuil saja aku rasakan cintanya pada ombak, sebut aku manusia paling beruntung

Penunggang ombak kini sedang kembali menjelajah Mentawai
Kepulauan kecil di utara Indonesia yang disebutnya rumah
Akhir tahun giliran Papua Barat dan entah mana lagi
Diam-diam kutitipkan separuh hatiku untuk disebar ke setiap penjuru laut

Selamat malam, Penunggang Ombak
Sampai kita berjumpa lagi
Rentetan cerita dan tawa akan jadi bagian paling kutunggu
Biar kudapatkan setetes saja semangat dari laut birumu

Andini Haryani
17 Juni 2011

Ternyata ketidaksempurnaan jauh lebih mudah diterima bila itu milik orang lain
Janji untuk mencintai dan menghargai ternyata jauh lebih sulit diberikan pada diri sendiri
Untuk pertama kalinya bayangan di cermin terasa seperti bukan milikku
Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang ingin ku rubah
Untuk pertama kalinya muncul rasa malu pada sesuatu yang memang milikku, memang untukku

Ternyata tidak menilai buku dari sampulnya lebih sulit dilakukan bila buku itu milik sendiri
Kekuatan untuk menerima kenyataan ternyata paling sulit diberikan kepada diri sendiri
Berulangkali kujanjikan pada orang lain bahwa mereka sempurna seperti adanya
Berulangkali kuyakinkan orang lain bahwa mereka berharga, bahwa hidup tidak memandang warna
Lebih mudah berkata daripada melakukan
Lebih mudah berjanji daripada mempercayai

Kukira aku mencintai diriku apa adanya
Kukira aku kuat
Ternyata belum
Ternyata tidak
Maafkan aku, diriku

Aku rindu rumah
Rindu setengah mati hingga ngilu di ulu hati
Pernahkah kau rasakan itu?
Tangan ingin menggenggam,
namun semua jauh, teramat jauh
Dan kau hanya bisa berdoa agar ngilu itu sedikit sirna
Dan kau bertahan agar tidak menangis karena air mata tiada guna
Karena semua jauh, teramat jauh

Aku rindu manusia-manusia itu, padahal mereka telah meninggalkan jejak di diriku
Dan selamanya mereka berada bersama aku
Tak mungkin pergi, apalagi hilang
Tetapi tetap, kadang terasa sepi
Kadang terasa kosong
Kadang terasa sendiri
Aku rindu mereka
Mereka yang jauh, teramat jauh

Aku rindu rumah

Semalam aku memimpikan kamu
Mimpi yang terlalu aneh
Hanya karena kamu ada di dalamnya
Dan kamu bisa berbicara dalam bahasa Prancis
Dan kamu mengajar di sebuah universitas
Dan kamu berada di rumahku
Berusaha bermain dengan anjing-anjingku
Ya, anjingku yang sudah mati itu
Dan anjingku yang galak itu
Dan kita bicara tentang mengapa kamu bisa berbahasa Prancis
Dan juga tentang kamu yang ternyata seorang dosen
Dan juga tentang berbagai hal yang sudah tak bisa aku ingat lagi
Kita bicara
Juga tertawa
Dan berpegangan tangan
Lalu aku terbangun
Dan alarmku memekakkan telinga
Dan aku ingin kembali tertidur lagi
Tapi lalu pagi memanggil
Dan aku harus buru-buru pergi
Memenuhi sebuah janji
Setahun sekali
Merapihkan rumput liar di atas nisanmu
Semoga nanti malam kita bertemu kembali

Andini Haryani
Houston, 12 Januari 2011

Hela nafas
Dengkur panjang
Melotot marah
Merajuk
Mengeluh
Lalu memalingkan muka
Pemuda-pemuda putus asa
Pada yang tua, pada negara
Apakah juga pada diri yang memilih tak berguna?
Tak usah berkutat pada nostalgia
Bukankah setiap manusia berhak menulis sejarahnya?
Jika generasi tua dianggap membuat kecewa
Pemuda wajib melangkah maju dan berkata, “Tidak!”
Tidak lagi!
Pemuda punya kuasa
Untuk merubah dunia
Untuk menjadi berbeda
Generasi tua akan hilang segera
Biarkan mereka jadi sejarah
Kita tulis masa depan yang lebih indah
Dan lupakan segala omong kosong yang selama ini disuapkan
Jiwa harus lebih lapar dari mulut yang menganga
Rangkul saudara sebangsa yang tak takut berteriak, “Tidak! Tidak lagi!”
Ini saatnya
Pemuda, jangan diam!
Kita butuh bangga pada bangsa ini
Karenanya bangsa ini butuh kita
Pemuda, satukan sumpah
Untuk menjadi berguna
Paling tidak bagi satu saudara sebangsa

 

Andini Haryani
28 Oktober 2010

Berkunjung ke masa lalu
Kadang membuat malu
Tentu juga haru
Hingga akhirnya bisu
Lalu rindu
Masihkah manusia itu diriku?

Seorang penulis ternama pernah menciptakan seorang tokoh
Pria, tidak terlalu tampan, namun hatinya baik luar biasa
Membunuh lalat pun ia tidak tega
Sekali waktu pria ini jatuh hati
Alang kepalang dia jatuh hati
Bersama si tokoh perempuan mereka membangun cerita cinta termanis yang pernah ada
Jujur, polos, penuh cemburu kecil yang membuat iri siapapun yang mengenal mereka
Mereka bukan hanya sepasang kekasih, mereka sahabat yang saling memahami
Si penulis dengan luar biasa menggambarkan bagaimana keduanya dapat saling bercanda tanpa perlu kata-kata
Cerita cinta yang luar biasa
Tidak liar, namun tiada hari tanpa debar
Mereka seakan tercipta untuk satu sama lain
Sampai suatu ketika muncul satu lagi tokoh pria
Sang penulis mungkin sesungguhnya adalah pria yang getir
Karena dengan sadis ia membuat si perempuan jatuh cinta pada pria baru itu
Tinggallah si laki-laki baik hati itu sendiri
Jutaan pembaca ikut patah hati bersama si laki-laki
Jalan cerita kemudian fokus kepada si perempuan
Cintanya bertepuk sebelah tangan,  tapi apa daya, ia telah memilih si laki-laki baru
Tak ada jalan kembali, ia konsisten pada pilihannya
Satu hal yang disesali,
Ia telah menyakiti sabahat terbaiknya
Dan ia percaya hanya kebencian yang ada kini di hati si laki-laki baik hati
Puluhan lembar berikutnya, si penulis menceritakan kehancuran hati si perempuan
Tokoh pria yang membuatnya jungkir balik meninggalkannya untuk perempuan lain
Di halaman terakhir diceritakan bagaimana si perempuan duduk termenung sendiri di tepi bukit
Memandang jauh ke bawah, ke kota tempatnya tumbuh besar
Sesosok tubuh berdiri di belakangnya, memandangi rambut ikal si perempuan yang tertiup angin
Si laki-laki baik hati berdiri dengan hati yang remuk redam
Rasa sakit di hatinya kini jauh lebih parah dari ketika si perempuan memutuskan untuk meninggalkannya
Saat itu, paling tidak, ia merasa bahwa si perempuan berbahagia dengan keputusannya
Tapi kini, perempuan itu duduk dengan tatapan nanar dan mata sembab diam dalam kekosongan
Ia tidak bahagia, karena perempuan itu pun merana
Lama ia hanya mematung, memandang si rambut ikal
Tiba-tiba perempuan itu berdiri
Berhenti jantung si laki-laki baik hati
Kiranya setelah sekian lama mereka akan kembali bertatap mata
Buru-buru ia siapkan kata-kata
Tangannya bersiap untuk meraih tangan si perempuan
Ia akan memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja
Ya, laki-laki itu mempersiapkan rencana dalam hitungan detik
Si perempuan kemudian merentangkan tangan, menantang matahari di hadapannya
Kemudian ia melompat
Ia melompat tanpa pernah mengetahui bahwa sahabatnya yang tersayang selama ini berdiri di belakangnya

-Selesai-

Andini Haryani
21 September 2010

Yang tua tidak selalu benar
Yang tua tidak selalu sopan
Yang tua lebih sering lupa tata krama
Terutama kepada yang lebih muda

Yang muda tidak selalu salah
Yang muda tidak selalu kurangajar
Yang muda tidak lebih bodoh
Terutama saat melihat siapa yang salah

Bahaya laten mengintip dari pojok-pojok gelap
Berjingkat, berdesis, berbisik, “Hei, hati-hati!”
Bahaya laten mengintai tak lelah
Apa yang dicari, mungkin lelaki
Semakin yakin ini bukan main-main
Tanya saja Orde Baru, mereka pun tahu

Bahaya laten menggantung di pojok-pojok kotor
Serupa sarang laba-laba yang dijalin dengan bokong
Bahaya laten terdengar mendekat
Tentu tak terlihat, hanya samar-samar saja beritanya
Apa yang dicari, mungkin lelaki
Tanya saja Orde Baru, mereka tak pernah ragu

Bahaya laten di pojok sepi
Bahaya laten isi sudut hampa di hati
Bahaya laten tak mau pergi
Mungkin kau terlalu lama tak percaya diri
Dan segalanya hanya mimpi
Sadar, sadarkan diri

Bangun!

Kata-kata selalu habis
Bicara tanpa pikir panjang?
Sudah tak ingat kapan.
Kalimat tercekat di tenggorokan
Selalu canggung
Selalu bingung
Lalu setelahnya hanya ada penyesalan
Ingin kembali angkat telepon
Bilang aku rindu
dan teramat sayang
Tapi tidak bisa
Tidak pernah bisa
Karena kata-kata mandek di tenggorokan
dan ego membuat banjir perih di hati
Maafkan aku, Pak.
Aku janji suatu hari kita akan bicara
layaknya anak dan ayah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.